Peringatan Hari Santri Yayasan Al Hidayah tahun 2023″Jihad Ekologi Santri untuk Negeri. Jihad Lingkungan untuk Ibu Pertiwi”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Alhamdulillah….wassholaatu wassalaam..

A’udzu billahi minasysyahthoonirrajiim. Bismillahirrahmaanirrahiiim

الَمۡ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يُسَبِّحُ لَه مَنۡ فِى السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَالطَّيۡرُ صٰٓفّٰتٍ‌ؕ كُلٌّ قَدۡ عَلِمَ صَلَاتَه وَتَسۡبِيۡحَهٗ وَاللّٰهُ عَلِيۡمٌۢ بِمَا يَفۡعَلُوۡنَ

Artinya: “Tidakkah kamu menyadari bahwasanya Allah, kepada-Nya lah bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi. Dan burung pun mengembangkan sayapnya (untuk bertasbih). Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan bertasbihnya. Dan Allah tentu maha mengetahui apa yang mereka kerjakan” (QS. al-Nûr/24: 41).


Sebagaimana termuat dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi, diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضَعٌ وَسِتُونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ

 وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Artinya: “Iman itu memiliki 70 atau 60 lebih cabang. Cabang yang paling utama adalah mengucapkan kalimat laa ilaaha illallaah, sedang yang paling ringan adalah menyingkirkan duri dari jalan. Dan malu merupakan salah satu cabang iman.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadirin peringatan Hari Santri Nasional yang berbahagia

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat Hari Santri Nasional yang dirayakan dengan penuh semangat dan kebanggaan.

Kita tahu bahwa penetapan tanggal 22 Oktober menjadi Hari Santri Nasional karena berkaitan dengan peristiwa bersejarah adanya seruan resolusi jihad dari K.H. Hasyim Asy’ari untuk berjuang melawan penjajah yang ingin kembali mengambil kedaulatan Indonesia. Padahal saat itu Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya. Resolusi jihad itu berhasil menyatukan kalangan santri dan ulama, dan menggelorakan berbagai kalangan untuk berjihad mempertahankan kesucian tanah air Indonesia.

Para guru yang saya muliakan dan para santri yang saya banggakan

Dari 22 Oktober 1945 saat resolusi jihad dikumandangan sampai dengan hari ini 22 Oktober 2023, telah berjalan 78 tahun. Tentu tantangan yang dihadapi Indonesia dan Dunia Santri telah berbeda. Kita tidak lagi menghadapi ancaman penjajahan dari negara lain. Indonesia berkomitmen menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia, serta berkomitmen menjadi solusi masalah HAM dunia.
Demikian pula dunia santri di Indonesia, telah demikian berkembang luas dan tidak lagi menghadapi tantangan seperti dahulu. Berdasarkan data Kementerian Agama, setidaknya ada 39.043 pesantren pada tahun 2022. Jumlah santri sebanyak 4,08 juta. Sekali lagi, secara kuantitas, dunia santri dan umat Islam telah demikian berkembang luas.

Para guru yang saya muliakan dan para santri yang saya banggakan

Tahun 2023 ini, Hari Santri Nasional mengambil tema, “Jihad Santri Jayakan Negeri”. Pertanyaannya adalah, jihad terhadap apa? Apa tantangan dan PR terbesar dunia santri dan umat Islam saat ini?

Dalam kesempatan ini saya ingin mengajak kita semua untuk memperhatikan masalah besar namun jarang sekali dianggap penting kalangan santri dan umat Islam, yakni masalah lingkungan dan kelestarian alam.

Padahal kita tahu bahwa alam dan lingkungan adalah sakral, sebagaimana di firmankan Allah dalam QS. al-Nûr ayat 41 di atas. Perintah menjaga kebersihan lingkungan tidak kurang-kurang diajarkan, dan sejak kecil kita menghafal haditsnya. Namun, ternyata kita ini kurang amaliyahnya. Belum tercipta praktik baik dalam mengelola limbah dan sampah dari rumah tangga kita, dari industri rumah tangga, atau bahkan pesantren, madrasah dan masjid di lingkungan kita.

Lantas, apa tanggung jawab kita sebagai santri dan umat Islam? Ternyata, sampah-sampah tidak dikelola dengan baik. Menimbulkan bau dan pemandangan yang tidak sedap, berbagai penyakit terutama akan rawan bagi anak-anak dan balita kita. Sampah telah menimbulkan masalah di mana-mana.

Kita ikuti pemberitaan di media massa atau media sosial, di kota besar, telah dinyatakan ‘darurat sampah’. Ternyata di desa-desa juga demikian kondisinya. Sampah dibuang di pinggir-pinggir jalan. Tidak dikelola di pekarangan-pekarangan warga di desa. Apalagi sampah plastik yang tidak dapat diurai dalam tanah. Pemandangan itu juga dijumpai di pondok-pondok. Timbunan sampah kadang bersebelahan dengan makam-makam yang sering diziarahi.

Sungai-sungai yang dulu bisa untuk mandi, kini dipenuhi sampah atau limbah buangan dari kamar mandi atau warung-warung. Kapan terakhir generasi kita masih bisa mandi di sungai? Saya khawatir generasi anak-cucu kita sudah tidak bisa menikmati mandi di sungai, melihat sumber mata air, dan sebagainya. Sebab, semuanya telah tercemar dan tidak layak konsumsi.

Sebagai santri kita harus memikirkan serius masalah ini.

Para guru yang saya muliakan dan para santri yang saya banggakan

Panggung shalawat digelar dimana-mana. Bacaan-bacaan shalawat terus kita langitkan. Demikian pula kita perlu membumikan shalawat. Bumi ini perlu dishalawati, dijaga kebersihannya, kemuliaannya dan kesuciannya. Kita ciptakan bumi yang sejuk agar makhluk-makhluk hidup non-manusia seperti hewan (hayawan), tetumbuhan (nabaat), bahkan makhluk material (maaddah), dapat bertasbih sesuai sunnatullah.

تَحَفَّظُوْا مِنَ الأَرْضِ فَإِنَّهَا أُمُّكُمْ، وَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ عَامِلٍ عَلَيْها خَيْراً أَو شَرّاً إِلَّا وَ هِيَ مُخْبِرَةٌ بِهِ

Artinya: “Jagalah bumi, sebab ia adalah ibumu. Dan tiada seorang pun melakukan tindakan di permukaan bumi ini, baik tindakan baik atau buruk, kecuali akan dikabarkan oleh ibu bumi.”

Para guru yang saya muliakan dan para santri yang saya banggakan

Marilah, melalui peringatan Hari Santri Nasional ini, kita menekadkan diri, berjihad untuk negeri, dimulai dengan lingkungan terdekat kita. Mulai dari hal yang sederhana namun menjadi kunci dalam pengelolaan sampah, yakni mengajak setiap angggota keluarga untuk memisahkan sampah berdasarkan tiga jenisnya. (1) sampah organik, (2) sampah daur-ulang, (3) sampah residu seperti popok, pembalut dan gombal. Kita hidupkan lagi jogangan di pekarangan rumah kita untuk menampung khusus sampah organik dari dapur, agar bisa menjadi kompos dan bermanfaat kembali ke tanah. Prinsipnya, “yang dari tanah kembalikan ke tanah, yang dari pabrik kembalikan ke pabrik.” Kita biasakan anak-anak kita mengelola sampah, melalui keteladanan kita para orangtua. Peduli lingkungan dan mengelola sampah rumah tangga itu bukan hanya kewajiban orangtua, ibu-ibu, tapi juga anak-anak dan para bapak.

Selain mengelola sampah, perlu kita mengurangi konsumsi yang menimbulkan sampah. Baik itu konsumsi dalam arti pangan, membeli sandang dan pernak-perniknya, membeli papan dan ubo-rampai-nya, dan berbagai hal yang semua itu akan berakhir menjadi sampah. Mulailah selektif memikirkan mana yang kita perlukan dan mana yang hanya memenuhi nafsu konsumsi kita. Kita ajarkan dan teladankan anak kita untuk makan secukupnya namun mengutamakan gizi seimbang; tidak memubazirkan makanan; tidak membeli mainan dan alat tulis yang tidak diperlukan, dan seterusnya.  

Para mujahid ekologi yang yang penuh semang..anak- anak santri di lingkungan yayasan al hidayah yang saya cintai

Memperjuangkan kebersihan dan kelestarian lingkungan sejatinya adalah salah satu jihad menegakkan Islam rahmatan lil Aalamin. Islam menjadi rahmat bagi semesta alam, bagi manusia, hewan, tumbuhan dan alam lingkungan secara umum.

Demikian saya akhiri sambutan saya, Karakter dan semangat santri harus tetep ada disanubari kita baik sebagai santri yang sedang menuntut ilmu di PG, TK Muslimat NU 07, TPQ Al Hidayah, MI, Mts, dan MA Al Hidayah. semoga ini bermanfaat untuk kita semua. Kita tekadkan melalui Hari Santri Nasional ini, jihad ekologi santri untuk negeri. Jihad lingkungan untuk ibu pertiwi.

Wallaahul Muwaafiq ilaa Aqwaamith Thooriq. Wassalaamualaikum Wr. Wb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *